December 7, 2008

Takbiran Bego


Sate...

Gule...

Tong Seng...

Alhamdulillah... Idul adha telah tiba. Di kampung tempatku tinggal, Idul Adha disebut juga sebagai Lebaran Haji. Sehari sebelum sholat ied disunahkan oleh Rasul untuk berpuasa. Malam harinya biasanya diisi dengan bacaan kalimat takbir, Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar...

Sembari menulis blog ini, sempat juga kupikirkan nasib orang-orang yang tidak seberuntung saya. Pagi tadi sepulang anterin adikku ke sekolah, seorang pria tewas dipinggir jalan di perumahan Darmo Permai dengan badan penuh luka. Kuat dugaan ia jatuh terpeleset dari sepeda motor karena jalan licin setelah hujan. Begitu juga dikampungku, seseorang dikabarkan meninggal pada saat setelah waktu ashar. Mereka berdua hanya beberapa contoh orang-orang yang kurang beruntung karena tidak sempat menikmati indahnya berbagai di Idul Adha. Sungguh, jika Allah menghendaki maka tiada daya untuk menahannya walau sedetik.

Malem ini kumandang takbir terdengar dengan lantang, suaranya begitu menyulut bara jiwa ini untuk terus ingat pada Yang Maha Kuasa. Sudah menjadi tradisi di kampung tempat saya tinggal untuk mengumandangkan takbir bersama, biasa disebut Takbiran. Aku jadi teringat peristiwa memalukan ketika aku melakukan takbiran.

Waktu itu aku berusia 8 tahun, bersama adikku dyan... kami sholat isya di masjid pasar (begitulah kami menyebut nama masjid Darul Falikhin). Setelah selesai salam rakaat terakhir, kami memutuskan untuk ikut takbiran yang diselenggarakan masjid pasar. Saat itu banyak teman-teman kami yang sebaya dengan kami juga bergabung dengan kami, ada Tigor (si Roti Goreng), Anas (kompetitorku), Dwi (striker andalan tim sepak bola RT), Boby, dan masi banyak lagi teman-teman lainnya. Perjalanan takbiran pun dimulai... melewati kompleks perumahan.

Segala sesuatunya berjalan dengan lancar, tertib, rang dan gembira sebelum rombongan kami bertemu dengan rombongan takbiran dari masjid lain (belakangan diketahui rombongan ini berasal dari masjid Al Muhajirin).

Aku melihat rombongan lain sebagai sekumpulan anak-anak keren yang membawa OBOR... "Pasti rombongan takbiran mereka lebih keren daripada yang sedang aku ikuti", ujarku dalam hati.

Dyan, adiku yang saat itu berusia 6 tahun, mengajaku bergabung ke "rombongan keren" itu. Spontan, aku langsung mengiyakannya karena hal itu sudah kupikirkan sejak lama.

Kami berduapun lantas ber"pindah haluan" mengikuti "rombongan keren" itu. Setelah melalaui malam yang bahagia membawa OBOR dan mengumandangkan takbir berkeliling-keliling sepanjang jalan, kami pun lelah dan ingin segera pulang untuk beristirahat.

Namun perjalanan "rombongan keren" itu semakin ngawur... Atau aku yang berpikir demikian karena aku tidak tahu mo kemana arah perjalanan ini, rasanya semakin jauh saja dari rumah kami... melewati perkebunan mangga, sawah-sawah... kondisi gelap, tak ada penerangan jalan, seperti bukan di Surabaya saja.

Satu hal yang ada dibenaku saat itu... "Kesasar", alias tersesat...

Yah... ternyata aku telah tersesat. Rasanya tidak aku percayai bahwa aku telah "menyesatkan" adiku juga.

Dyan: "Pulang yuk"

Aku: "Aku sih ayo ayo ae, tapi lewat mana..."

Dyan: "Ga ngerti jalan pulang ta???"

Aku: (mencoba tetap stay cool) "ngerti seh, cuma lupa lewat mana"

Kemudian aku mencoba tanya pada pemimpin rombongan yang ada di depan barisan.

Aku: "Mas-mas, jalan ke Manukan tu lewat mana ya"

Pemimpin Rombongan (PR): Lho, Manukan mana?

Dyan: "itu lho, lewat depan rumahnya Wawan"

PR: "???????"

Aku: "Itu di deketnya toko Nam Tama, daerah SMU 11"

PR: "Wah, ndak tau dik"

Aku: (mapus)

Dyan: "lhooooo..."

PR: "Coba tanya tukang becak aja, dia lebih tau"

Singkat cerita, kami berdua pun memisahkan diri dari "ROMBONGAN KEREN" itu, seperti anak ayam kehilangan induknya, tersesat di suatu daerah asing yang gelap gulita, hanya obor yang kubawa sebagai penerang jalan. Setelah jalan tanpa arah cukup lama, kami menemukan tukang becak, dan untungnya dia adalah tukang becak sungguhan, bukan jadi-jadian atau semacamnya.

Setelah menerima penjelasan dari tukang becak, kami langsung mengikuti semua instruksinya, dan berhasil selamat samapai ke rumah.

March 8, 2008

Aku mau....

Busyet..... Sore ini aku baru aja pulang dari trainning Super Memory System di kampus. Dan secara mengejutkan, rumahku dikunci dan ga ada orang blas. Setelah mendapatkan konfirmasi dari Dinas Intelejen Si Keriting, diperoleh informasi bahwa ternyata orang-orang rumah pada pergi mancing. Maklum, sodaraku yang dari Whyoming dateng, jadi sebagai bentuk ungkapan silaturahmi, papaku berinisiatif ngajakin mancing.

Yah.... terpaksa deh aku internetan di warnet favoritku. Daripada nganggur mending ku tulis blogku yang dah lama berdebu dan usang ini.

Hah... akhirnya tiba juga saat yang kunanti.

"Aku dan kau hanyalah pemimpi"
"Aku dan kau percaya bahwa mimpi itu ada"
"Aku dan kau yakin kita bisa meraih mimpi itu"
"kita akan tertawa bersama mengenang masa-masa bersama di sini"

"untukmu, kuberjanji akan meraih mimpi itu"
"hanya padamu, kuberjanji membawamu kesana seperti yang kita impikan"

"Percayalah, jangan pernah lupakan aku"


Puisi itu kutulis berdasarkan suara hatiku saat ini. Sambil ndengerin lagunya Once yang Ku Cinta Kau Apa Adanya. Bener2 mnggambarkan suasana hatiku saat ini.

March 2, 2008

Febuary gaple'i

Sudah lama ga ngisi blog. Yah... akhir2 ini sering2 nulis di diary. BTW, banyak hal yang terjadi selama febuary.
Yang pertama... UAS semester 5 dahselesai dengan santainya. Trus... mulai intensif ngurusi HIMATIKA Event, kbetulan ak jadi ktuanya. Mulai dari proposal, perijinan hingga sponsorship, kukerjakan berdua dengan my bro, Hendra.
Pengajian... Alhamdulilah masih tetep sering ikut, tapi bolong satu, coz kelupaan. Oh ya, ak juga baru aja ganti nomor Hape loh. Sempat juga jado fotografer dengan model si jenggot, Hendra.

Yah.... bulan febuary lebih banyak kuhabiskan bersama makhluk Tuhan berjenggot ini. Awealnya sih berteman karena kepanitiaan, tapi setelah melihat hasil semester ini yang (sangat) jeblok, kami berduapun berkomitmen untuk mewujudkan impian mempunyai IPS 4 untuk semester 6 ini. Maklum, demi mengejar ketertinggalan jumlah SKS yang musti ditempuh. Kami berduapun berkomitmen untuk membuat sejarah baru dalam dunia perkuliahan di Departemenku.


Suka duka, jelas ga dapat dipungkiri. Namun sepanjang febuary.... jam tidurku sangat berkurang. Hal ini seiring dengan persediaan uang di dompetku yang (spertinya) hanya mampir didompet selama beberapa menit, kmudian hilang. Kbanyakan pengeluaran masuk ke kantong pemilik warung ijo di deket rental komputernya Pak Yanto. Banyak juga aliran uangku masuk ke kas tukang tambal ban, abis... bencana ban bocor datang bertubi-tubi silih berganti setiap saat setiap waktu datang menghantui.


Sekarang aku ada diwarnet deket kampus. Pengelolanya kakak seniorku. Warnet Sinobi namanya. Saben internetan di sini mesti ndengerin lagu2 jepang (Anime). Jadi rasanya kaya dieumah dewe (feels like home), coz dirumah aku sering muter lagu2 kaya gitu. Aku tadi baru aja bantu-bantu Maki ngurusi TOEFL Trainning. Mulai dari pembuatan spanduk, blocknote ampe foto2 kukerjakan dengan hati (agak) ikhlas (sedikit). Abis.... bener2 membuat jam tidurku berkurang. But it's OK! Cuacanya emang lagi ga bersahabat, sejak siang tadi ujan terus.

Aku ke warnet ini gara-gara nungguin si jenggot ga pulang2. Padahal dia janji mo ketemu aku sore ini, katanya sih ada hal yang musti dia bicarakan ke aku. Haaahhh....

Apa yang sedang aku pikirkan sekarang???
1. HIMATIKA CUP bakal bergulir beberapa hari lagi, tapi hujan terus menerus membahasahi bumi, otomatis kegiatan lomba futsal, voli, tarik tambang and basket terancam.

2. Masalah PKL (Praktek Kerja Lapangan). Awalnya aku dah dapetin team yang solid buat PKL di Sampoerna-Surabaya, yaitu Ash, Priyo ama Husna. Tapi (sekali lagi) si Jenggot berhasil membujuku untuk PKL di Kalimantan. Dengan berbagai alasan, kuterima pinangannya. Sekarang aku mikir... dari mana biayanya????

3. Masalah Seminar Nasional... banyak temen yang (kelihatannya) antusia ama materi seminar nasional itu, bahkan beberapa teman dah mo booking tiket untuk semnas. Tapi.... dengan berbagai alasan, si Jenggot yang bertindak selaku CEO HIMATIKA bermaksud mengalihkan kegiatan tersebut untuk kepengurusan HIMATIKA berikutnya.

4. Masalah Kaderisasi HIMATIKA. Bentar lagi akan ada suksesi kepengurusan HIMATIKA. So.... akhir2 ini kami disibukan pembuatan laporan pertanggungjawaban, musyawarah besar, and pemilihan umum.

5. Perencanaan Kabinet, visi dan Misinya. That's very top secret.

January 8, 2008

Asal usul kolor ijo

Suatu hari di kelas Statistika Matematika, ada seorang mahasiswa yang tampak gelisah. Orangnya kurus rambutnya keriting. Hari namanya.

Karena ga nyambung2 dijelasin uji hipotesa, mahasiswa sinting tersebut mengeluarkan secarik kertas kemudian menuliskan beberapa kalimat pada kertas itu.

Kembalikan ke Hari ya!!
Temen2 lanjutkan critanya dengan menambahkan 1 kalimat OK!
Begini ceritanya:

Pada suatu hari, hiduplah seorang anak bernama Anton.

Kemudian kertas itu diberikan ke teman sebelahnya. Setelah membaca dan melanjutkan ceritannya, kertas itu diberikan lagi ke teman sebelahnya lagi. Begitu seterusnya

Tak lama kemudian Anton mati. Ibunya menangis sampai2 dia makan kayu. Tiba2 banjir datang. Ia tidak jadi makan kayu tapi minum air. Gara2 kelelep air, Anton hidup lagi. Mungkin air banjir membuat hidup lebih hidup? Terus berteriak "HELP... HELP me" dia orang Inggris ga?? Yo pikiren dewe??? Bukan, tapi ayahnya keturunan Imggris... dan ibunya blesteran Jawa-Arab. Sebenernya ayah dan ibu Anton udah bercerai setelah Anton baru lahir. Dan di dalam suasana kebanjiran itulah anton menemukan pasangan hidup, seekor putri duyung. Yang ternyata neneknya sendiri. tapi sumprit wajah putri duyungnya bikin napsu... Pikiranmu!!! Tapi lama2 Anton sumpek liat wajah putri duyung yang mbulet, ruwet, banyak keripu en jerawat!! Ngapain bingung nex, kan dunia kedokteran udah canggih! Operasi plastik dong nek! Pake plastik ember :p
Walhasil nenek pun pergi ke RSUD DR SOETOMO sambil bawa ember plastik, dokterpun mengoperasi. Alangkah terkejutnya Anton coz wajah neneknya jadi ijo (ya jelaslah... sapa suruh bawa ember ijo!!) Dari situlah muncul yang namanya kolor ijo coz neneknya frustasi trus dia keliling cuma pake kolor (jo pula) biar matching ama wajahnya. Matching ga matching yang namanya nenek tetep aja tuwir dan Anton sadar bahwa neneknya sudah tua, hinggap di jendela, giginya tinggal 2. Namun Anton tetep setia menunggunya karena dia adalah cucu semata wayang...


Cerita belum usai... eh jam pelajaran dah abis. Jadi sekian dulu ya cerita asal muasal kolor ijo.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...