May 20, 2011

Sebuah Catatan Yang Keliru


Kamis malam kemarin, 19 Mei 2011 saya mengikuti kajian Bangbang Wetan yang dipandu oleh Emha Ainun Najib (Cak Nun). Saat itu mereka mendatangkan anak-anak usia sekolah yang menyandang cacat fisik, mental dan ada pula yang kesulitan berkomunikasi (divabel). Mereka yang konon katanya TIDAK NORMAL itu menampilkan beberapa pertunjukan LUAR BIASA seperti menari balet, menari Remo (tradsional Jawa Timur), ada juga yg menampilkan monolog dan memainkan akustik.

Seorang penderita divabel menampilkan monolog tentang keadaan poitik dan ekonomi di negri ini. Subhanallah, sangat LUAR BIASA... bisa berbicara NORMAL saja sudah merupakan PRESTASI bagi mereka, lha ini malah berbicara didepan publik, mengajak para audiens malam itu untuk merenung, berpikir tentang kebangkitan bangsa Indonesia...

Satu hal yang membuat saya merinding adalah ketika salah seorang pemuda yang mengalami keterbatasan indra penglihatannya (mata kiri buta total dan mata kanan berjarak pandang 4cm) memetik senar-senar gitar akustik dan menyanyikan lagu D'Masiv yang berjudul "Jangan Menyerah".

"Tak ada manusia yang terlahir sempurna... Jangan kau sesali segala yang telah terjadi...
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat... seakan hidup ini tak ada artinya lagi..."
  D'Masive - Jangan Menyerah

Saya merinding bukan karena mereka menyanyikannya dengan (sangat) baik, tetapi saya merinding karena terinspirasi dari sikap hidup mereka yang menerima segala keterbatasan fisik mereka untuk tetap berpikir dan bertindak luar biasa.
  • Bagaimana seorang yg menderita autisme bisa menari balet? (Wong diajak ngomong aja gak nyambung)
  • Bagaimana seorang yang kaki dan tangannya tidak lengkap, berjuang jauh-jauh dari Banyuwangi naik kereta api sendirian ke Surabaya untuk datang ke kajian Bangbang Wetan dan berbagi pengalaman dan sikap hidup? (Wong cara berjalannya aja udah susah)
  • Bagaimana seorang yang memiliki kekurangan fisik TIDAK MAU dikasihani, malah berbuat sesuatu yang LUAR BIASA?
Yah, sebagai seorang yang (Alhamdulillah) normal, saya merasa malu. Maklum, cendekiawan dari kampus seperti saya ini memang biasanya sombong, suka mengeluh, suka protes... merasa diriku ini cerdik dan pintar karena merasa terpelajar. Saya malu kepada mereka yang tidak normal tetapi punya semangat hidup yang luar biasa. Kejadian di malam itu sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya (dan para jama'ah maiyah BangBang Wetan malam itu). 

Dalam note ini, saya tidak ingin menggurui siapapun, juga tidak berkepentingan untuk pamer kecerdasan kepada siapapun. Saya menulis catatan ini untuk mengajak teman-teman (yang normal) untuk menjadi pribadi yang pandai bersyukur atas segala nikmat atas kenormalan kita... menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu (alim) tetapi juga pribadi yang bijak dan semakin tunduk karena mengenal diri sendiri (dan Tuhannya).

Well...
Ayo bro! Ayo sist!!
Semangat mengejar cita-citamu...
Semangat menyiapkan bekal di akherat nanti...
Kita ini adalah pemuda revolusioner...
Kita ini adalah pemuda yang akan menggenggam dunia...
BERHENTI MENGELUH DAN KEMBALI BEKERJA!!
Wassalam...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...