November 11, 2011

11-11-11

Terakhir kali aku nangis, sebelum hari ini... saat aku mengetahui salah satu saudaraku meninggal dunia karena leukimia, atau kanker sel darah putih. Yah, dia masih sekolah di kelas 3 SD dan baru saja mendapat sepeda baru.

Hari ini, aku juga menangis.... Ah, ternyata saya cukup cengeng gara-gara membaca koran Jawa Pos edisi hari jumat, 11 November 2011. Bukan berita politik, bukan kolom Deteksi, dan bukan halaman olah raga yang sering aku baca.



Tapi sebuah berita di kolom kecil di suatu daerah di Indonesia. Seorang anak (sebut saja namanya Fatmawati, nama sebenarnya) terpaksa menjadi saksi dalam persidangan kasus pembunuhan ibunya oleh ayahnya sendiri.

Kekhawatiran juga dirasakan hakim dan psikolog yang mendampingi Fat saat bersaksi. Tidak ada yang tega melihat sang anak bersaksi atas kejadian pembunuhan ibunya, yang tersangkanya adalah ayahnya sendiri.

Pada awalnya...
Fatmawati (Fat) diminta ayahnya membeli minyak kayu putih di warung langganan ibunya. Fat-pun berangkat memenuhi permintaan itu sambil membawa uang Rp 50.000 pemberian ayahnya. Sesampainya di warung, Fat membeli minyak kayu putih, dan mendapatkan uang kembalian sebesar Rp 25.000.

Sekembalinya dari warung, Fat mendapati ayahnya sudah tidak ada di rumah. Ayahnya sudah pergi membawa sabit untuk mencari rumput. Karena itu Fat menyerahkan minyak kayu putih dan uang kembalian Rp 25.000 itu ke ibunya.

Ternyata uang kembalian itu menjadi petaka...
Sekembalinya sang Ayah dari mencari rumput, ia mendapati uang kembalian minyak kayu putihnya "hanya" Rp. 25.000. Ternyata penjual minyak kayu putih tersebut telah memotong Rp 19.000 dari uang kembalian seharusnya untuk melunasi hutang ibunya.

Mengetahui hal itu, sang Ayah mulai bereaksi...
Fat, saat bersaksi dalam persidangan mengatakan bahwa setelah ayahnya mengetahui uang kembaliannya hanya Rp 25.000, sang ayah langsung mencubit-cubitnya, menjambak, dan memukulnya wajahnya dengan sandal.

"Nggak cuma itu, ibu juga di jedhut-jedhut-kan ke tembok beberapa kali", ujar Fat, yang saat kejadian memeluk adiknya yang masih bayi.

Hasil visum tim dokter mengatakan bahwa sang ibu mengalami luka memar di bagian wajah, payudara, dan leher, serta pendarahan otak serius. Itulah yang membuat kondisi ibunya lemah dan meninggal dunia.

RENUNGAN BERSAMA
Kenapa di Indonesia ini masih ada yang memperkarakan uang Rp 19.000 dengan nyawa sebagai taruhannya? Padahal, uang Rp 19.000 hanya cukup buat sekali makan bagi mahasiswa di Jakarta. Bahkan, uang Rp 19.000 tak ada artinya bagi para penikmat dugem, penggemar konser musik Jazz, dan pejabat elit di negri ini.

Masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dibawah garis kemiskinan. STOP gaya hidup hedonisme, mari kita berhenti menghamburkan uang... mari kita berhenti sejenak dari rutinitas kita, dan lihat saudara-saudara di sekeliling kita yang masih butuh uluran tangan kita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...