November 19, 2011

Kita seharusnya lebih bijak membedakan CINTA dengan NAFSU.


Ah, terlalu banyak orang membicarakan CINTA, tetapi... tahukah kau apa definisi CINTA setelah sekian lama kau terabsorbsi di dalamnya?

Misalkan ada orang yang selalu setia memakai kacamata hitam mulai bangun pagi hingga tidur malam. Jika suatu saat ia bertemu orang di jalan, kemudian ditanya: "Sekarang masih siang atau sudah malam?". Maka si pria berkacamata hitam ini tentu saja kesulitan membedakan mana siang dan mana malam. Baginya tidak ada bedanya siang atau malam karena sama-sama gelap! Dia selalu menggunakan kacamata hitam kapanpun, dimanapun... 




Begitu pula ketika kita dihadapkan pada masalah CINTA, sebagian besar dari kita belum bisa melepas "kacamata hitam" dalam memaknai cinta. Yap, selama ini orang-orang selalu mempropagandakan makna cinta dengan dangkal, yaitu sebagai rasa ketertarikan (seksual) dengan lawan jenis (biasanya melalui tahap berpacaran... dibumbui dengan hubungan seks... kalau dah bosan ya putus, kalo masih sayang ya balikan lagi, kalo bosan lagi ya selingkuh, dan sebagainya dan sebagainya...). 

Makna cinta yang salah ini terus dipropagandakan ditengah masyarakat... simak aja film-film karya anak bangsa seperti sinetron-sinetron tentang cinta di TV atau dlm film fenomenal seperti di Virgin, Kawin Kontrak, Laris Manis, XXL (Extra Large), dan lain sebagainya. 

Celakanya, si produser dengan bangganya mengatakan bahwa film-film mereka mengandung unsur "pendidikan", bahwasannya "sex bebas itu tidak baik". Emang sih, kira-kira kurang dari 5% durasi film itu memberi pesan bahwa sex bebas itu tidak baik. Sisanya yang lebih dari 95% durasi film hanya berisi adegan dan dialog-dialog tak bermutu dan mendegradasi moral. Jadi, masih bisakah film tersebt dikatakan film yang "edukatif" (mendidik)? Ibaratnya, ada sebuah minuman yang kandungan obatnya 5% tetapi kandungan racunnya 95%... apakah minuman itu masih pantas disebut OBAT?

 

Propaganda cinta yang salah ini terus didengungkan di tengah masyarakat kita, tidak hanya melalui film bioskop maupun program TV, tetapi juga melalui lagu-lagu yang dibawakan band-band papan atas, program-program di Radio, internet, hingga media cetak seperti koran dan majalah. Simak saja lagu-lagu seperti lagu "Sedang ingin Bercinta", "Mari Bercinta", "Sephia kekasih gelapku", "Cinta ini membunuhku", "Cinta satu malam", "Chaya chaya" (ups, ini gak termasuk). Mulai dari anak-anak hingga dewasa telah mengkonsumsi RACUN ini mulai dari pagi hingga larut malam.  

Masyarakat setiap hari di-edukasi lewat program TV, film Bisokop, acara radio, internet, majalah, tabloid bahwasannya:
  1. cinta adalah pacaran dengan ini, terus selingkuh dengan itu, kemudian putus dengan ini, dan putus dengan itu
  2. cinta adalah hubungan seksual dengan seseorang yang menjabat sebagai pacar atau selingkuhan, bahkan teman
  3. cinta adalah menangis di saat kau putus dengan pacar, atau ketika pacar direbut orang 
  4. cinta adalah ini itu begini begitu dan sebagainya... dan sebagainya.
Jika kita mau melepas "kacamata hitam" yang menyesatkan itu, maka kita bisa melihat bentuk cinta sejati yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Bentuk cinta itu bukanlah sekedar ketertarikan seksual dengan lawan jenis, karena hal seperti itu bisa saja dimiliki seekor babi sekalipun. Tidak perlu repot-repot menjadi manusia (makhluk sempurna) kalau hanya untuk mengejar cinta yang demikian rendah.

Yang saya pahami sejauh ini, CINTA yang dimiliki manusia adalah bentuk rasa BERTANGGUNGJAWAB  terhadap yang dicintainya... dan tanpa mengharap pamrih.



Misalnya, jika sebagai kita berperan sebagai ibu yang MENCINTAI anaknya, maka kita akan BERTANGGUNGJAWAB atas kebahagiaannya, keberlangsungan hidupnya, pendidikannya, pakainnya, dan sebagainya tanpa mengharap pamrih dari anak itu. Jika kita berperan sebagai manusia yang CINTA kepada Allah, maka kita akan BERTANGGUNGJAWAB terhadap segala perintah-Nya dan larangan-Nya. Jika seorang pria mencintai seorang wanita, maka seharusnya ia BERTANGGUNGJAWAB atas kebahagiaan wanitanya, bertanggungjawab atas tangisnya,kebutuhan jasmani dan rohaninya, dan sebagainya, dan sebagainya... Bukan hanya menikmati kesenangan sesaat, sudah gitu ditinggal jika sudah bosan. 

Well, meskipun saya tidak tahu apa definisi/makna cinta sebetulnya, tapi saya yakin bahwa cinta bukanlah hal yang serendah ketertarikan seksual semata... yang pasti, kita seharusnya lebih bijak membedakan CINTA dengan NAFSU agar tidak terjebak dalam kesesatan cinta semu yang malah tidak membuat kita bahagia... (kebahagiaan semu)

INTERMESSO:
Note ini ditulis karena diinspirasi oleh salah seorang teman wanita saya, yang merupakan korban (sekaligus pelaku) pelecehan seksual atas nama cinta
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...